Perasaan Cinta yang Teruji

Rasulullah SAW hari itu sedang menjadi imam sholat isya di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid yang satu ini, seperti diketahui besar jasanya sebagai tempat pertemuan beliau dengan sahabatnya untuk membahas berbagai hal dan memberi pengarahan kepada mereka di Masjid Nabawi. Masjid ini mulai dibangun Rasulullah SAW beberapa lama selepas kehijrahan beliau ke kota tersebut. Pembangunan Masjid itu tersebut tidak berlangsung lama, sekitar dua bulan dan usai pada tahun pertama hijrah / 622 M. Masjid itu sendiri bukanlah masjid yang pertama kali beliau dirikan. Sebelumnya telah berdiri Masjid di Quba yang didirikan Sa’ad bin Khaitsumah atas pendapat dan rancangan Rasulullah SAW. Pembangunan Masjid di Quba  usai dan menjadi tempat sholat tidak lama selepas beliau pindah dari Quba ke perumahan Bani ‘Adiy bin Al-Najjar di tengah-tengah Kota Madinah.

Luas Masjid Nabawi kala itu cukup luas. Pada awalnya luasnya adalah 70 x 63 kaki. Setiap bagian beratap pada masjid tersebut, yang menjadi tempat melaksanakan sholat kala itu, disangga dua baris batang-batang pohon kurma. Setiap baris terdiri enam batang pohon kurma. Tiga di sebelah kanan, dan tiga di sebelah kiri. Masjid ini, kala masih pada masa Rasulullah SAW., kemudian diperluas 10 hasta pada lebarnya dan 20 kaki pada luasnya. Sedangkan jumlah batang-batang kurma ditambah dua di sisi lebarnya, sementara pada atap di sebelah utara dan selatan di tambah satu baris batang pohon kurma. Dengan kata lain, pada tahun-tahun kehidupan beliau. Masjid Nabawi memiliki luas 5670 kaki persegi, atau sekitar 3.280,86 meter persegi dengan hitungan satu hasta pada masa beliau sama dengan 58 sentimeter. Dibagian sebelah tenggara shahn Masjid nabawi kala itu, beliau mendirikan kamar-kamar yang beliau jadikan tempat tinggal beliau bersama para istri. Semulanya hanya dua kamar yang dibangun, satu untuk Saudah binti Zam’ah dan yang lain untuk ‘Aisyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Selepas beliau menikah lagi, barulah kamar-kamarnya di tambah. Kamar-kamar tersebut tidak memiliki daun-daun pintu. Yang ada hanyalah tirai yang menutup bagian dalam, sehingga tidak tampak dari dalam.

Para Sahabat yang menjadi makmum kala itu, antara lain ‘Umar bin Al-Kaththab merasa gelisah melihat keadaan Rasulullah SAW. yang menurut mereka sedang sakit. Buktinya, setiap kali menggerakkan tubuh untuk ruku’, sujud dan sebagainya, senantiasa kedengaran suara keletak-keletik, seakan tulang belulang beliau longgar semuanya. Karena itu, selepas mengucapkan salam, ‘Umar pun memberanikan diri bertanya kepada beliau dengan perasaan khawatir, ” Wahai Rasulullah, apakah engkau sakit ?”

“Tidak, ‘Umar . Aku sehat.” Jawab Rasulullah SAW dengan ramah dan santun

“Tapi, mengapa setiap kali engkau menggerakkan badan dalam sholat, kami mendengar tulang belulangmu berkeretakan ?” cecar ‘Umar bin Al-Kaththab penuh rasa ingin tahu dan penasaran.

Mula-mula Rasulullah SAW tidak ingin mengungkapkan rahasianya. Namun, lantaran para sahabat tampak khawatir atas keadaan beliau. Beliau akhirnya membuka pakaian yang beliau kenakan. Tampak oleh sahabat, beliau mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya di isi batu-batu kerikil untuk menggannjal perut untuk menahan lapar. Dan, batu-batu itulah yang berbunyi keletak-keletik selama beliau menjadi imam sholat.

Melihat hal yang demikian itu, dengan serta merta ‘Umar bin Al-Kaththab pun memekik pedih dan perih, “Wahai Rasul! Apakah sudah sehina itukah anggapanmu kepada Kami ? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberikanmu makanan yang paling lezat ? Bukankah kami semua hidup dalam kecukupan.”

Rasulullah SAW pun tersenyum ramah seraya berkata, “Tidak ‘Umar. Tidak. Aku tahu Kalian para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekadar makanan, harta, ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cinta kalian kepadaku. Tetapi, dimana akan kuletakkan mukaku di hadapan pengadilan Allah kelak di hari pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang kupimpin ?

 Sumber: Ahmad Rofi Usmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s