Menjadi Saksi Persahabatan Nan Tulus

          UHUD, Madinah, Sabtu, 15 Syawal 3H / 30 Maret 625 M. Hari itu, di kaki Bukit Uhud yang terletak di Sebelah timur laut Kota Nabi itu. Dua pasukan bermusuhan, pihak Kaum Musyrik Makkah yang berkekuatan sekitar 3000 orang di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dan pasukan Kaum Muslim yang berkekuatan sekitar 1000 orang, bertemu. Dalam pertempuran hari itu, pihak Kaum Musyrik Makkah mula-mula mengalami kekalahan besar, mesti jumlah tentara dan persenjataan mereka yang jauh lebih besar. Namun, pasukan panah Kaum Muslim, yang oleh Rasulullah SAW disiagakan di atas bukit untuk melindungi sayap pasukannya, meninggalkan kedudukan mereka, mengabaikan instruksi yang tegas dari beliau, dan terjun ke kancah pertempuran karena khawatir akan tidak diperhitungkan dalam pembagian rampasan perang. Karena itu, pasukan Kaum Musyrik menyerang sayap pasukan Kaum Muslim yang terbuka sehingga pasukan Kaum Muslim  pun menjadi porak-poranda dan mengalami kehancuran besar. Kemudian, selepas itu. Pasukan Kaum Muslim bangkit kembali dari kekalahan mereka. Tetapi, pasukan Kaum Musyrik Makkah telah meninggalkan medan pertempuran dan kembali pulang.

          Dalam perang ini, pihak pasukan lawan kehilangan 23 orang anggotanya, sedangkan pasukan Kaum Muslim menderita kerugian yang tidak sedikit dan 70 orang Kaum Muslim gugur sebagai Syuhada’ dalam perang ini. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, pamanda Rasulullah SAW., termasuk yang gugur dalam perang ini. Beliau sendiri mengalami luka-luka, sehingga gigi beliau patah dan wajah beliau berlumuran darah.

          Kemudian, kala senja hari itu baru saja hadir dan Perang Uhud baru saja berakhir. Belum semua korban yang jatuh ditemukan jenazahnya. Karena itu, petang itu, ‘Umar bin Al-Kaththab sengaja pergi ke bukit Uhud untuk mencari mereka, barangkali masih ada korban-korban yang dapat diselamatkan. Ketika itu tiba-tiba dia mendengar ada suara menyeru nama Allah seraya meminta seteguk air. Buru-buru ayahanda Hafshah itu, melangkahkan kakinya untuk mendatangi tempat suara itu. Di sana, dia menjumpai seorang prajurit Muslim yang masih muda usia dengan luka parah yang mengerikan menimpa dirinya. Anak muda itu meminta minum.

          ‘Umar bin Al-Kaththab segera berjongkok dan mengangkat kepala anak muda itu. Lantas, dia pun mendekatkan buli-buli airnya ke mulut anak muda itu. Tiba-tiba dari arah lain kedengaran suara lain menyebut nama Allah, dan juga meminta minum karena kehausan. Anak muda itu memberi isyarat kepada ‘Umar bahwa dia mengurungkan permintaannya untuk minum dan menyuruh agar ‘Umar memberikan airnya kepada orang yang baru saja memanggil-manggil, barangkali orang itu lebih memerlukan air dari pada dirinya.

          Maka, anak muda itu dibaringkan kembali oleh ‘Umar bin Al-Kaththab, dan ‘Umar pun bergegas menuju suara yang kedua. Tiba disana, dilihatnya seorang muslim yang berusia setengah lanjut, dengan kedua tangannya telah kutung, meminta agar ‘Umar bersedia memberinya minum. Bibirnya pecah-pecah dan wajahnya penuh dengan darah. Dengan penuh rasa iba, ‘Umar mengangkat kepala orang itu. Dia segera menyodorkan buli-buli airnya ke mulutnya. Namun, menjelang air itu menetes ke bibir korban perang yang kesakitan tersebut, di seberang mereka terdengar suara menyayat hati berseru-seru, “Allah, Allah ! Haus, Haus !”

          Rupanya orang kedua itu juga mendengar suara tersebut. Maka, ia menggelengkan kepalanya, menampik air yang hendak diberikan ‘Umar bin Al-Kaththab kepadanya. Dengan suara lirih yang hampir tidak tertangkap oleh pendengaran ‘Umar, orang itu berkata lirih, “Berikan air ini kepada Saudaraku itu. Mungkin, ia lebih menderita daripada aku.”

          ‘Umar bin Al-Kththab pun bangkit dan meninggalkan tempat itu menuju ke seberang. Disana ada seseorang yang berusia lanjut tergolek tanpa daya. Ketika ‘Umar berjongkok cepat untuk menolong orang yang telah lanjut usia ini, ternyata ia sudah keburu menghembuskan nafas penghabisan.

          ‘Umar bin Al-Kaththab sangat sedih. Dia pun segera meninggalkan orang yang lanjut usia itu dan tergopoh-gopoh lari ke tempat anak muda. Sampai disana, ternyata anak muda itu pun baru saja melepas nyawanya. ‘Umar kian sedih. Namun, dia tidak membuang waktu. Dia bergegas kembali ke tempat orang kedua yang meminta pertolongan setelah anak muda itu. Di sana, ‘Umar mendapati orang itu tidak mampu lagi membuka bibirnya untuk meneguk setetes air, karena orang itupun sudah meninggal dunia.

          ‘Umar bin Al-Kaththab pun tertegun dan tercenung di tempatnya berdiri: mengagumi ketiga orang itu yang tidak sempat minum lantaran lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Sunber: Ahmad Rofi’ Usmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s