Cinta, Puncak Keimanan

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. [ Al-Hujarat/49 :7]

Dikisahkan oleh sahabat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW suatu ketika berkisah: “Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan, terasalah olehnya dahaga yang tiada terkira. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia menuruninyauntuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba ia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: Anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi. Lalu turunlah ia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu ia gigit agar dapat naik kembali. Ia kemudian meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuni dosanya. “ Para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah! Apakah kami mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini?” Rasulullah menjawab “ Pada setiap yang bernyawa (makhluk hidup) ada pahalanya.” [H.R. Muslim]

Dilain waktu Nabi Muhammad SAW. Juga bercerita bahwa pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjiing yang sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepaskan sepatu kulitnya (untuk mengambil air sumur yang akan diminumkan ke anjing), lalu wanita itu diampuni dosanya. [H.R. Muslim]

Dua risalah berbeda di atas mempunyai pesan yang sama tentang hakikat dan makna cinta (al-hubb). Cinta yang penulis maksudkan di sini bukan sekedar perasaan suka sama suka antar sesama jenis, tetapi lebih dari itu. Cinta di sini adalah cinta yang sangat universal: tentang hak dan kewajiban manusia yang sesungguhnya, yang sangat berkaitan erat dengan pengejawantahan akhlaaqul kariimah (akhlak yang mulia) dalam kehidupan misi utama nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT di bumi. Etika manusia sebagai manusia. Dan itu adalah satu bentuk yang sangat hakiki dari iman.

Sementara itu, di hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diterangkan dengan sangat gamblang bahwa menyingkirkan duri di jalan adalah sedekah. Sebab, diperlukan kerelaan hati yang didasari oleh cinta yang luar biasa bagi orang yang melakukan tindakan ini karena ia (si menyingkir duri) tidak tahu kepada kaki siapa duri itu menusuk. Yang dia tahu hanyalah melakukan kewajibannya sebagai makhluk untuk melakukan kebaikan kepada siapa pun juga. Yang dia tahu dan lakukan, berbuat baik adalah berbuat baik, menolong adalah menolong. Titik. Ketika ada orang yang lapar, berilah makan. Ketika ada orang sakit, berilah obat. Tak perlu memandang ia berasal dari mana dan dari kelompok apa. Almarhum budayawan Profentik Kuntowijoyo pernah bilang,” kebaikan adalah kebaikan, apa pun kata orang. Sesudah kita berbuat kebaikan selesailah.”

Cinta lebih tinggi derajatnya daripada hukum-hukum. Dalam cinta terdapat kompromi-kompromi atas dasar kasih sayang dan kemaslahatan bersama. Bahkan hukum nash dari Allah SWT bersifat fleksibel. Apalagi hukum yang dibuat oleh manusia dimana terdapat banyak kepentingan dan subjektivitas di sana. Cinta melampaui kepentingan-kepentingan.

Maka tidak diragukan lagi, seseorang yang penuh dengan cinta akan memenuhi dan memiliki banyak hal positif dalam hidupnya. Berikut ini beberapa hal positif yang dimiliki oleh orang yang mengedepankan cinta dalam hidupnya.

Memberi dan Memberi

Sesorang dengan hati yang dipenuhi dengan cinta akan selalu memberi dan memberi tanpa berharap sedikitpun untuk menerima. Baginya kebahagiaan utama ia dapatkan saat memberi sesuatu kepada orang lain. Bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW  yang suatu ketika mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Beberapa amsal yang sudah penulis sebutkan di atas tadi adalah beberapa contohnya.

Mencintai Orang Lain Tanpa Syarat

Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah SAW, pernah bialng bahwa suatu waktu Nabi Muhammad SAW  bersabda: “ Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri [H.R. Muslim]

Para ulama berpendapat “tidak beriman” yang dimaksudkan ialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimaksudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat yang seperti itu. Maksud kalimat “mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal-hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi: “ Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk saudaranya sendiri.”

Sedangkan Abu ‘Amr bin Shalah berkata: “perbuatan semacam ini terkadangdianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan seseorang. Padahal tidak demikian, karena yang dimaksudkan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi dirinya, misalnya tidak berdesak-desakan di tempat ramai atau tidak mau mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal-hal semacam itu sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan orang yang berhati jahat.”

Lain lagi Abu Zinad. Ia berkata, : “Secara tersurat hadits ini menyatakan hak persamaan, tetapi sebenarnya manusia itu punya sifat mengutamakan dirinya, karena sifat manusia suka melebihkan dirinya. Jika seseorang memperlakukan orang lain seperti memperlakukan dirinya sendiri, maka ia berasa dirinya berada di bawah orang yang diperlakukan demikian. Bukankah sesungguhnya manusia itu senang bila haknya dipenuhi dan tidak dizhalimi? Sesungguhnya iman yang dikatakan paling sempurna ketika seseorang berlaku zalim kepada orang lain atau ada hak orang lain pada dirinya, ia segera menginsafi  perbuatannya sekalipun hal itu berat dilakukan.

Sebagian ulama lain berpendapat: “Hadits ini mengandung makna bahwa seseorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sendiri sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu.” Seperti tersebut pada hadits lain berbunyi: “ orang-orang mukmin laksana satu tubuh bila satu dari anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bisa tidur malam hari.”

Sementara itu K.H. A. Mustofa Bisri lebih akrab dipanggil Gus Mus dalam satu tulisannya mengatakan bahwa banyak yang salah khilaf mengartikan hadits ini dengan: “ belum benar-benar beriman salah seorang diantara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” Pemaknaan ini kelihatannya benar, tetapi ada yang terlewatkan dalam mencermati redaksi hadits tersebut. Di sana redaksinya yuhibba liakhiihi (mencintai untuk saudaranya), bukan yuhibba akhaahu  (mencintai saudaranya).

Jadi semestinya diartikan “ belum benar-benar beriman salah seorang diantara kamu sampai dia senang atau menyukai untuk saudaranya apa yang dia senang atau sukai untuk dirinya sendiri.” Artinya, apabila kita senang atau suka mendapatkan kenikmatan. Misalnya, bila ingin menjadi sebenar-benarnya mukmin kita harus juga senang dan suka bila saudara kita mendapatkan kenikmatan.

Apabila kita senang diperlakukan baik, kita pun harus senang bila saudara kita diperlakukan dengan baik. Apabila kita senang jika tidak diganggu, kita pun harus senang bila saudara kita tidak diganggu. Demikian seterusnya. Bukanlah seseorang pantas dikatakan sebagai mukmin yang baik bila ia senang dihormati tapi tidak mau menghormati saudaranya dan tidak senang bila saudaranya dihormati. Bila pengertiannya dibalik: bukanlah seseorang pantas dikatakan mukmin bila ia tidak suka dihina tetapi suka menghina saudaranya dan suka bila saudaranya dihina.

Demikianlah, dengan cinta yang “sejati” kita sebenarnya bisa dengan mudah mempererat kerukunan antar beragama di Indonesia yang sejauh ini mudah terkoyak, kerukunan antar bangsa, kerukunan antar suku yang sekarang ini mudah  sekali terpecah-pecah dan diadu, kerukunan antar partai politik yang mudah digoyang oleh kepentingan-kepentingan mendapatkan kekuasaan daripada memperjuangkan rakyat, dan bahkan kerukunan antar sesama makhluk yang diciptakan Tuhan selama ini enggan untuk saling berbagi. Semestinya, kita bisa lebih bijakdan dewasa dalam meyingkapi perbedaan. Karena perbedaan sejatinya, adalah hakikat hidup yang “sengaja” diciptakan oleh Allah SWT

Sumber: Buletin Jum’at

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s