Pujian Untuk Seorang Sahabat yang Tulus

unnamedRasulullah SAW hari itu sedang bersama istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid, di kota kelahiran beliau, Makkah. Istri teladan beliau yang bernama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin’Abdul Uzza bin Qushai tersebut sangatlah besar dukungannya terhadap upaya sang suami dalam menyeru dan mengajak kaumnya ke pangkuan agama tauhid, dan meninggalkan agama berhala dan adat istiadat jahiliyah. Dengan penuh ketabahan dan ketegaran, dia mendampingi suaminya pada awal perjuangan berat menyebarkan islam. Sebagai Istri Rasulullah SAW, dia banyak mengalami penderitaan. Namun dia tetap tabah dan setia. Dia tetap mendampingi suaminya ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengusir keluarga Bani Hasyim yang bersikeras  menyebarkan Islam.

Tak aneh jika Rasulullah SAW, sangat kehilangan ketika Khadijah binti Kuwailid wafat pada 10 atau 11 Ramadhan tahun ke 10 kenabian (atau 3 tahun sebelum hijrah / 30 atau 31 April 619 M) dalam usia 65 tahun karena sakit demam dan dimakamkan di pemakaman umum Ma’la, Makkah. Ketika Memakamkannya, beliau meletakkannya sendiri ke dalam Liang lahad. Dan tentang Istrinya yang memberi beliau enam putra-putri: Al-Qasim, ‘Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah ini, sepeninggalan Khadijah beliau berucap. ” Demi Allah, tiada ganti yang lebih baik daripada dia, yang beriman kepadaku kala semua orang ingkar, yang beriman kepadaku kala semua orang mendustakan. dan yang mengorbankan hartanya kala semua berupaya mempertahankannya. Dan darinya saya mendapatkan keturunan.

Kala Rasulullah SAW dalam keadaan demikiantiba-tiba beliau teringat kepada Abu Bakar yang terkenal cerdas. Beliau pernah mengundang Abu Bakar ke rumah beliau. Ketika tiba di rumah beliau, Abu bakar mengetuk pintu. Beliau pun menyambutnya dengan wajah berbinar-binar, dan kemudian berkata kepada Khadijah binti Kuwailid, ” ini adalah Atiq, wahai Khadijah.”

Selepas berbagi sapa beberapa lama, Abu Bakar kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW,” Benarkah apa yang dituturkan oleh orang-orang itu, wahai Sahabatku?”

“Apa yang mereka sampaikan kepadamu?” Rasulullah SAW balik bertanya.

“Kata mereka, Allah telah mengutusmu kepada kami agar kami beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” Jawab Abu Bakar.

“Apa jawabanmu kepada mereka, wahai Atiq ?” tanya Rasulullah SAW lebih lanjut.

” Kataku kepada mereka: Jika memang demikian, benarlah dia.” Jawab Abu Bakar.

Mendengar Jawaban Abu Bakar tersebut, air mata Rasulullah pun meleleh  karena rasa bersyukur dan puas. Beliau kemudian memeluk sahabatnya itu dan mencium keningnya. Lalu beliaupun menceritakan kepadanya peristiwa turunnya wahyu di Gua Hira, dan tidak lupa membacakan wahyu yang diturunkan kepada beliau; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [ Al-‘Alaq/96 : 1-5 ]

Sementara itu, Abu Bakar menundukkan kepalanya penuh haru. Tak lama kemudian, dia mengangkat kepalanya dan memegang tangan Rasulullah SAW erat-erat seraya berkata, ” Saya bersaksi bahwa engkaulah seorang yang benar dan terpercaya. Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Semenjak memeluk islam, dengan hartanya tak kurang dari empat puluh dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan, Abu Bakar senantiasa bersama Rasulullah SAW melakukan dakwah demi agama Allah, Keakraban masyarakat dengannya, kesenangan mereka bergaul dan mendengarkan pembicaraannya, besar pengaruhnya terhadap angkatan muslim pertama dalam memeluk islam. Yang mengikuti jejaknya menerima islam ialah : ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidullah, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Al-Zubair bin Al-‘Awwam. Selepas mereka yang kemudia menyusul memeluk islam atas ajakan Abu Bakar ialah : Abu ‘Ubaidah bin Al-Jallah, dan banyak lagi yang lain dari warga Makkah.

Oleh karena itu, sering kali orang merasa heran betapa Abu Bakar tidak merasa ragu menerima islam ketika pertama kali disampaikan Rasullah SAW kepadanya. Dan karena menerimanya tanpa ragu, kemudian beliau berkata: “Tak seorang pun yang pernah ku ajak memeluk islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, Kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah. Dia tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu ketika kusampaikan ajaran islam kepadanya.”

Sumber : Ahmad Rofi’ Usmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s