Sahabat Sejati yang Bersifat Objektif

Hari itu sebuah kafilah dagang memasuki perbatasan Kota Makkah. Kota yang satu ini, merupakan kota kelahiran Rasulullah SAW, dan juga merupakan kota suci umat Muslim. Dalam Al-Qur’an, Kota ini juga disebut sebagai Bakkah, Umm Al-Qura (Ibu Kota Negara), Balad (Negeri), Al-Balad Al-Amin (Negeri yang Aman dan Damai), Al-Baldah (Negeri), Haram Amin (Tanah Suci nan Aman), Wad Ghair Dzi Zar’ (Lembah nan Gersang), Ma’ad (Tempat Kembali), dan Qaryah (Negeri). Jauh sebelum ajaran islam datang, kota suci ini sudah banyak dikunjungi jamaah haji, selain sebagai pusat perdagangan. Pada masa Romawi dan Bizantium, di kota ini diperdagangkan barang-barang dari India, Afrika Timur, dan dari Timur jauh sampai di negara-negara Mediterania. Hasil-hasil dari Timur dikapalkan ke Aden, Yaman, dan dari sana diangkut kafilah unta menyusuri pantai barat menuju Mesir, Damaskus, dan Eropa. Karena Merupakan pos utama lalu lintas kafilah, tidak aneh jika kala itu sebagian besar penduduk kota suci itu terlibat dalam perdagangan.

Kota Suci yang didirikan oleh Ibrahim a.s. dan putranya, isma’il a.s., ini secara geografis terletak di lembah yang dikelilingi gunung-gunung. Lembah ini sekitar delapan kilometer. Gunung-gunung yang mengitari kota ini adalah: Jabal Al-Falaj, Jabal Al-Qu’aiqaghan, Jabal La’ala, Jabal Kudai, Jabal Abu Qais, dan Jabal Khandimah. Hampir seluruh gunung-gunung tersebut kini telah berpenghuni.

Ketika Kafilah dagang Makkah yang diikuti Abu Bakar Al-Shiddiq itu memasuki perbatasan Kota Makkah, mereka dijemput oleh serombingan kecil penjemput yang dipimpin ‘Amr bin Hisyam atau lebih dikenal dengan panggilan Abu Jahal. Mereka pun saling berpelukan. Selepas berbagi sapa, Abu Jahal kemudian membuka percakapan,

“wahai ‘Atiq (panggilan Abu Bakar sebelum masuk Islam) apakah orang-orang telah menceritakan kepadamu tentang sahabat karibmu?”

“Apakah yang Engkau maksudkan itu adalah Muhammad Al-Amin?” tanya Abu Bakar penuh rasa ingin tahu.

“Memang, yang kumaksudkan adalah anak yatim dari Bani Hasyim itu!” Jawab ‘Amr bin Hisyam geram.

“Apakah Engkau mendengar sendiri apa yang dikatakannya, wahai ‘Amr ?” Tanya Abu Bakar lebih lanjut.

“Ya, aku , dan semua orang mendengarnya!” Jawab ‘Amr bin Hisyam sangat ketus.

“Apa Katanya ?” Tanya Abu Bakar

“Katanya, di langit ada Allah!” Jawab ‘Amr bin Hisyam semakin ketus. “Dia mengutusnya kepada kita agar kita hanya beribadah kepada-Nya dan meninggalkan Tuhan-tuhan yang disembah oleh nenek moyang kita!”

“Apakah dia mengatakan bahwa Allah telah menyampaikan wahyu kepadanya” Tanya Abu Bakar kembali.

“Begitu yang dia katakan” Jawab ‘Amr bin Hisyam sangat ketus.

“Apakah dia menceritakan bagaimana Allah berbicara dengannya” Tanya Abu Bakar kembali.

“Katanya, Jibril mendatanginya di Gua Hira!” Jawab ‘Amr bin Hisyam hampir tak kuasa meredam amarahnya.

Mendengar jawaban yang demikian itu, wajah Abu Bakar pun tampak berbinar-binar, seolah saat itu sang surya hanya memedari dirinya. Dengan Tenang, dia kemudian berucap, ” Jika demikian, benarlah dia!”

Sumber : Ahmad Rofi’ Usmani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s