Jihad Melawan Setan Bagian 1

      Sadarkah kita bahwa setiap diri ini memiliki musuh besar ? Musuh yang sangat menginginkan kita sesat dan celaka. Musuh yang tak terlihat, tapi memiliki banyak tipu-daya dan cara untuk mencapai tujuannya, itulah setan. Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan manusia agar tidak tergoda olehnya.

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :

“Hai Anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah berhasil mengeluarkan kedua ibu dan bapakmu di surga.” [ al-A’raf/7: 27]

Oleh karena itu, dengan Rahmat-Nya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuh. Karena memang sebenarnya, setan musuh bagi manusia.

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, jadikanlah ia musuhmu, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [Fathir/35 : 6]

Bagaimana sepak terjang musuh terhadap lawannya ? semua orang sudah tahu jawabannya yaitu berusaha sekuat tenaga agar lawannya ditimpa segala keburukan dan terlepas dari semua kebaikan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ayat diatas, ” Perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh ini sebagai peringatan agar (manusia) mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi dan melawannya. sehingga setan itu seolah-olah musuh yang tidah pernah berhenti dan tidak pernah lalai.” [Zadul Ma’ad III/6]

Dalam menjalankan aksinya, menyesatkan dan membinasakan umat manusia. setan mempunyai dua senjata yaitu syubhat dan syahwat. oleh karena itu, orang yang ingin selamat harus berjihad melawan setan dengan bersenjatakan ilmu dan mentazkiyah (membersihkan) jiwanya. ilmu nafi’ (yang bermanfaat) akan membuahkan rasa yakin, yang akan menolak syubhat. sedangkan tazkiyatun nafs akan melahirkan ketakwaan dan kesabaran yang membuat kita dapat mengendalikan syahwat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ” Jihad melawan setan memiliki dua tingkatan. Pertama, menolak syubhat dan keraguan yang dilemparkan setan kepada hamba; Kedua, menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek yang dilemparkan setan kepada hamba. Jihad yang pertama akan diakhiri dengan keyakinan, sedangkan jihad yang kedua akan diakhiri dengan kesabaran.”

Allah ‘Azza wa Jallah Berfirman :

“Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika kami sabar. Dan adalah mereka yang menyakini ayat-ayat Kami.” [as-Sajdah/32 : 24]

Allah ‘Azza wa Jalla memberitakan kepemimpinan agama hanya bisa diraih dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran akan menolak syahwat dan keinginan-keinginan jelek, dan keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat [Zadul Ma’ad III/10]

Jadi senjata manusia untuk melawan setan adalah ilmu dan kesabaran. Ilmu yang berasar dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Kemudian mengamalkan ilmu tersebut sehingga jiwa menjadi bersih dan suci serta kesabaran.

itulah cara menghadapi tipu daya setan secara global, sedangkan secara rinci adalah sebagai berikut:

  • Beriman dan Mentauhidkan Allah dengan benar

Sesungguhnya seluruh kekuatan, kekuasaan, kesempurnaan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, seorang hamba yang ditolong dan dilindungi oleh Allah tidak akan ada yang mampu mencelakainya. Inilah senjata pertama dan paling utama seorang mukmin dalam menghadapi setan yaitu beriman dengan benar kepada Allah, beribadah dengan ikhlas kepada-Nya, bertawakkal hanya kepadanya dan beramal shalih sesuai aturannya. Allah ‘Azza wa Jalla memberitakan bahwa setan tidak memiliki daya tahan terhadap hamba-hamba Allah yang beriman dan mentauhidkan-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :

“Sesungguhnya syaitan itu tidak akan memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya.” [an-Nahl/16 : 99]

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, ” ketika iblis tahu bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk menguasai) orang-orang ikhlas, dia mengecualikan mereka dari sumpahnya yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Iblis mengatakan, Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas [Shad/38 : 82-83]

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu (iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti-Mu, yaitu orang-orang yang sesat.” [al-Hijr/15 : 42]

Maka ikhlas adalah jalan kebebasan. islam adalah kendaraan keselamatan, dan iman adalah penutup keamanan. [al-‘ilmu, Fadhulu Wa Syarafuhu, hlm 72-74, tansiq: Syeikh Ali bin Hasan Al-Halabi]

  • Berpengang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan Pemahaman As-Salafush Shalih

Ketika Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan manusia di muka bumi. Sesungguhnya Dia menyertakan petunjuk untuk mereka. Sehingga manusia hiduo di dunia ini tidak dibiarkan begitu saja, tanpa bimbingan, perintah dan larangan. Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan kitab suci dan mengutus para Rasul yang membawa peringatan, penjelasan dan bukti-bukti. Barangsiapa berpaling dari peringatan Allah, maka dia akan menjadi mangsa setan dan dijerumuskan ke dalam kecelakaan abadi.

Allah ‘Azza wa Jalla Berfirman :

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [az-Zukhruf/43: 36]

oleh karena itu, jalan selamat dari tipu daya setan adalah dengan mengikuti jalan Allah, mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman as salafush shalih.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, kami biarkan ia  leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [an-Nisa/4: 115]

  • Berlindung kepada Allah dari gangguan setan.

Inilah sebaik-baik jalan untuk menyelamatkan diri dari setan dan tentaranya. memohon perlindungan kepada Azza wa Jalla, karena dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,” Makna “alu berlindung kepada Allah dari setan yang dilaknat” yaitu aku meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang dilaknat yang menggangguku pada agamaku atau pada duniaku, atau menghalangiku dari melakukan yang diperintahkan (Allah ‘Azza wa Jalla) kepadaku atau mendorongku melakukan apa yang terlarang bagiku. Karena tidak ada yang bisa mencegah setan dari manusia kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk mengambil hati dan bersikap lembut kepada setan manusia, dengan melakukan kebaikan kepadanya, agar tabi’atnya (yang baik) menolaknya dari gangguan (yang dia lakukan)…

( to be Continued)

Sumber: Buletin Jum’at

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s